Link Copied!
Webnity Back to Blog
Technology November 30, 2025

Revolusi Web Development 2025: Kebangkitan Server-Side Rendering (SSR) dan Matinya Client-Side Rendering Murni

Written by Admin
Revolusi Web Development 2025: Kebangkitan Server-Side Rendering (SSR) dan Matinya Client-Side Rendering Murni

Dunia pengembangan web bergerak dengan kecepatan cahaya. Rasanya baru kemarin—sekitar tahun 2016 hingga 2019—kita semua berlomba-lomba memigrasikan website kita menjadi Single Page Applications (SPA) murni. Saat itu, memisahkan backend API dengan frontend React/Vue yang sepenuhnya dirender di browser (Client-Side Rendering/CSR) dianggap sebagai "Holy Grail" arsitektur web.

Namun, di tahun 2025 ini, pendulum telah berayun kembali. Kita menyaksikan pergeseran masif kembali ke arah server. Bukan, ini bukan kembali ke era PHP Native lama tanpa interaktivitas, melainkan era hibrida yang cerdas melalui Server-Side Rendering (SSR) modern dan React Server Components (RSC).

Mengapa tren ini berbalik? Apa yang salah dengan CSR murni? Dan mengapa Anda harus peduli?

1. Ilusi Kecepatan pada Client-Side Rendering

Janji manis SPA adalah transisi halaman yang instan. Dan memang benar, setelah website selesai dimuat, perpindahannya sangat mulus. Masalahnya ada pada kata "selesai".

Pada aplikasi CSR murni, browser pengguna harus:

  1. Mendownload file HTML kosong (blank canvas).
  2. Mendownload bundel JavaScript yang besar (bisa 2MB - 5MB).
  3. Mengeksekusi JavaScript tersebut.
  4. Fetching data dari API (loading spinner muncul).
  5. Baru kemudian konten dirender.
"User experience bukan hanya soal animasi transisi yang halus, tapi seberapa cepat pengguna mendapatkan informasi yang mereka cari. Loading spinner bukanlah konten."

Di perangkat mobile dengan koneksi 4G yang tidak stabil, proses di atas bisa memakan waktu 5 hingga 10 detik. Dalam ekonomi atensi saat ini, 3 detik adalah batas toleransi pengguna sebelum mereka menekan tombol "Back".

2. Masalah SEO yang Tak Kunjung Usai

Meskipun Googlebot mengklaim bisa merender JavaScript, kenyataannya proses indexing untuk situs JavaScript-heavy jauh lebih lambat dan rentan error. Crawler media sosial (seperti saat Anda share link di WhatsApp, Twitter/X, atau Facebook) bahkan lebih bodoh lagi; mereka seringkali hanya melihat halaman putih kosong jika meta tag Anda bergantung pada JavaScript.

Dengan SSR, server mengirimkan HTML yang sudah matang dan berisi konten lengkap. Google senang, Facebook senang, dan pengguna Anda senang.

3. Evolusi Kode: Dari `useEffect` ke Server Components

Mari kita lihat perbandingan teknis. Di era React lama (CSR), untuk mengambil data profil pengguna, kita harus melakukan "Waterfal Fetching" di klien:

// CSR: Cara Lama (Client Component)
function UserProfile() {
  const [user, setUser] = useState(null);
  const [loading, setLoading] = useState(true);

  useEffect(() => {
    fetch('/api/user')
      .then(res => res.json())
      .then(data => {
        setUser(data);
        setLoading(false);
      });
  }, []);

  if (loading) return <Spinner />;
  return <div>Halo, {user.name}</div>;
}

Kode di atas menyebabkan Layout Shift dan memperlambat interaksi. Sekarang, bandingkan dengan pendekatan modern menggunakan Next.js App Router (Server Component):

// SSR: Cara Baru (Server Component)
async function UserProfile() {
  // Data diambil langsung di server sebelum HTML dikirim
  const user = await db.user.findFirst();

  return <div>Halo, {user.name}</div>;
}

Perhatikan betapa bersihnya kode tersebut? Tidak ada useEffect, tidak ada manajemen state loading di klien, dan data diambil langsung dari database tanpa harus mengekspos API endpoint publik.

4. Core Web Vitals: Hakim Penentu Ranking

Google kini menggunakan metrik Core Web Vitals sebagai faktor ranking utama. SSR secara inheren unggul dalam metrik ini:

  • LCP (Largest Contentful Paint): Lebih cepat karena browser langsung menerima gambar/teks utama tanpa menunggu JS.
  • CLS (Cumulative Layout Shift): Lebih stabil karena struktur HTML sudah terbentuk dari server, mengurangi elemen yang "melompat-lompat" saat data dimuat.
  • FID (First Input Delay): Lebih rendah karena kita mengirim lebih sedikit JavaScript ke klien.

Kapan Kita Masih Membutuhkan CSR?

Apakah CSR mati total? Tentu tidak. Kita masih membutuhkannya untuk interaksi mikro yang sangat dinamis, seperti:

  • Dashboard analitik real-time.
  • Editor teks kaya fitur (seperti Google Docs).
  • Game berbasis web.
  • Bagian-bagian interaktif kecil (Like button, Carousel).

Kuncinya adalah Islands Architecture atau Hydration Parsial. Render kerangka utama dan konten berat di server, lalu "hidupkan" (hydrate) hanya bagian-bagian kecil yang butuh interaksi di klien.

Kesimpulan

Pergeseran kembali ke Server-Side Rendering di tahun 2025 adalah tanda kedewasaan ekosistem web. Kita tidak lagi terobsesi dengan satu alat untuk semua masalah. Kita belajar menyeimbangkan antara Developer Experience (DX) dan User Experience (UX).

Jika Anda sedang membangun website konten, e-commerce, atau blog perusahaan, SSR bukan lagi pilihan—itu adalah keharusan. Sudah saatnya kita berhenti membiarkan browser pengguna bekerja keras, dan kembalikan beban kerja ke server di mana ia seharusnya berada.