Bursa Asia Diprediksi Melemah Usai The Fed Tahan Suku Bunga

Sumber Gambar: Bloomberg Technoz
Pasar Asia Terganjal Kekhawatiran Imbal Hasil dan Belanja AI
Webnity.id, Jawa Tengah - Bursa saham Asia diperkirakan akan mengikuti tren pelemahan Wall Street setelah kembali munculnya kekhawatiran terkait belanja besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Ketidakpastian ini mendorong imbal hasil obligasi AS tenor panjang menuju level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Kontrak berjangka indeks saham Australia, Jepang, dan Korea Selatan seluruhnya menunjukkan indikasi pelemahan di awal perdagangan Asia. Hal ini terjadi menyusul penurunan S&P 500 sebesar 1,5%, yang tertekan oleh aksi jual saham-saham pembuat cip. Indeks Nasdaq 100 telah resmi memasuki fase koreksi teknis, dengan penurunan dari rekor tertingginya mencapai 11%.
Respons Perusahaan Teknologi dan Pasar Berjangka
Usai penutupan pasar, Meta Platforms Inc merilis proyeksi yang cenderung datar, memperkuat sentimen waspada di kalangan investor. Sebaliknya, Microsoft Corp mencatat pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) tercepat dalam empat tahun terakhir. Data ini berhasil memberikan penopang pada kontrak berjangka saham AS di sesi perdagangan awal kawasan Asia.
Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, The Fed Tahan Suku Bunga
Kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) semakin curam setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Imbal hasil Treasury jangka panjang 30-tahun melonjak lebih dari 10 basis poin, menembus level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, imbal hasil acuan 10-tahun naik lima basis poin menjadi 4,66%.
Di sisi lain, imbal hasil Treasury dua tahun—yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter—justru turun enam basis poin menjadi 4,23%. Pergerakan ini mencerminkan ekspektasi pasar yang terbelah mengenai prospek suku bunga di masa depan.
Sinyal dari The Fed dan Pergerakan Dolar AS
Gubernur The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa keputusan menahan suku bunga bukan berarti bank sentral bersikap pasif. "Pasar bebas menentukan jalurnya sendiri berdasarkan sinyal-sinyal ekonomi," ujarnya. Tiga dari 12 pejabat The Fed yang memiliki hak suara menyampaikan ketidaksetujuan (dissent) dan memilih peningkatan suku bunga, menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi masih sangat kuat.
Sementara itu, nilai tukar dolar AS mencatatkan penurunan harian terbesar dalam dua pekan, menunjukkan adanya aksi ambil untung atau alih aset meskipun imbal hasil obligasi jangka panjang naik.
Jasa Pembuatan Website Muncul di Google
Ubah website biasa menjadi mesin penghasil leads yang muncul di halaman pertama pencarian Google. Dilengkapi dengan optimasi SEO kelas dunia, desain responsif multi-device, dan dukungan penuh 24/7.




